Rabu, 26 Oktober 2011

Urgensi Pemahaman Konsep Kalimat Sederhana

Apabila pertama kali mengajar di kelas baru, saya selalu membuat eksperimen kepada para siswa. Eksperimen tersebut adalah memberikan kepada mereka untuk menentukan unsur-unsur kalimat (S-P-O-Pel-K) dari kalimat-kalimat berikut.
1. Saya mengajar di kelas.
2. Saya mengajar.
3. Saya di kelas.
4. Adiknya cantik.
5. Motornya dua.
6. Paman dari Jakarta.
Jawabannya ternyata hampir sama, yaitu umumnya para siswa benar untuk kalimat (1) dan (2), sedangkan kalimat (3, (4), (5), dan (6), salah. Jawabannya sebagai berikut.
1. Saya mengajar di kelas. (SPK)
2. Saya mengajar. (SP)
3. Saya di kelas. (SK)
4. Adiknya cantik. (SK)
5. Motornya dua. (SK)
6. Paman dari Jakarta. (SK)
Padahal yang benar; kalimat (1) SPK, kalimat (2), (3), (4), (5), dan (6) semuanya berpola SP.

Eksperimen yang sama juga selalu saya lakukan pada saat membina matakuliah bahasa Indonesia di PTS. Hasilnya juga sama, tidak dapat membuat kalimat sederhana dengan benar.

Pemahaman Konsep Yang Salah
Kesalahan siswa secara umum dapat diasumsikan penyebabnya adalah kesalahan guru dalam mengajar. Dimungkinkan pula penyebabnya karena pemahaman konsep yang salah dari para guru. Pemahaman konsep yang salah saat penyampaikan pembelajaran mengakibatkan kesalahan berjamaah. Padahal yang saya eksperimenkan masih berupa kalimat sederhana, belum menguji topik kalimat tunggal apalagi kalimat majemuk.
Pemahamanan konsep terhadap kalimat sederhana sangat urgen. Hal ini karena kalimat sederhana merupakan dasar dari pembuatan kalimat tunggal bahkan kalimat mejemuk. Pemahaman yang salah terhadap konsep kalimat sederhana akan berakibat pada pemahaman konsep kalimat tunggal maupun majemuk. Karena itu agar dapat membuat kalimat dengan baik dan benar harus dimulai dengan pembuatan kalimat sederhana yang benar.

Pengetahuan Berbahasa VS Ketrampilan Berbahasa
Bila kita tes siswa kita mengarang, mereka umumnya mampu membuat kalimat secara lancar. Namun bila kita teliti lebih jauh, tatabahasa mereka belepotan di sana-sini. Pembelajaran bahasa Indonesia yang bertumpu pada ketrampilan berbahasa relatif berhasil, namun gagal pada pemahaman konsep tatabahasanya. Hal ini dapat dimaklumi karena memang materi pembelajaran tatabahasa tidak digariskan dengan jelas dalam silabus kurikulum 2006.
Memang kisi-kisi materi uji ujian nasional lebih menekankankan pada ketrampilan berbahasa. Hal ini berbeda dengan materi ujian SMPB / SNMPTN yang lebih menekankan aspek pengetahuan bahasa (tatabahasa). Terdapat jurang pemisah yang sangat lebar antara kisi-kisi materi ujian nasional dengan SPMB / SNMPTN. Akibatnya, bila guru mengajar hanya menekankan pada Kurikulum 2006, maka akan mengorbankan siswanya masuk PTN. Karena itu, meskipun tidak tercantum dengan eksplisit dalam kurikulum guru sekali-sekali harus berimprovisasi mengajarkan materi tatabahasa untuk mempersiapkan para siswanya sukses SPMB / SNMPTN.

0 komentar:

Posting Komentar

Amfibi Web Search & Directory

Free SEO Tools

Submit ExpressSEO Services & Tools
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net
 
;